Terima kasih saya ucapkan kepada ibuku yang sekarang tinggal bersamaku. Cukup aneh bukan. Sebuah kata terima kasih konon katanya sangat berarti dalam hidup ini. Kata itu dapat mewakili segudang perasaan yang saya miliki untuk selama ini. Setidaknya untuk segala sesuatu yang saya alami sampai saat ini. Atau sampai pada masa pembentukan diriku.
Kakakku kukenal sebagai orang yang memiliki segudang keburukan. Mari kusebutkan beberapa; malas yang super duper malas, nakal walaupun orang seumuran dia agak aneh bila kita mendengarnya, dan membuang air mani sembarangan dan bertanggung jawab dengan menggugurkannya. Tentu orang tuanya lebih tau susahnya mendidiknya. Sebagai bukti, sampi saat dia menikahpun masih tetap tidak dapat saya liat perubahannya sebagai orang dewasa yang sering saya dengar ceritanya. Tetapi yang namanuya orang selalu memiliki kebaikan hati yang dapat menandingi semua itu. Itulah orang tua, like son like father. Semoga penerusnya tidak seperti dia (mudah-mudahan seperti pamannya yang baik hati dan suka menabung juga tidak ketinggalan suka menyiram tanaman saat hujan).
Itulah salah satu kakakku, saya memiliki dua orang kakak. Kakak tertuaku telah terlebih dahulu menikah. Semoga dia cepat mengandung karena adiknya yang baru saja menikah telah membawa gadis dengan kandungan lima bulan. Sesuatu yang dipandanganku sangat tidak mengenakan untuk dibicarakan. Tetapi apa mau dikata, saya berbeda "pembentuk" alias lingkungan dengan mereka. Saat sedang ingin berkumpul dengan mereka, namanya saja saudara, mereka telah menggandeng suami dan istri. Tetapi bukan tiu yang ingin saya utarakan.
Lingkungan yang berbeda, itulah yang dapat saya rasakan perbedaan diantara kami bertiga. Lingkungan yang membentuk kami. Mereka dibentuk dengan orang tua yang memang asal mereka. Tentu itu membuat orang tuanya mampu mengerti bagaimana keinginan anaknya, mengetahui pola pikir dari anak-anaknya, dan yang paling penting tahu menempatkan dirinya disisi anaknya bahkan dapat tenang saat melihat kebusukan anak mereka dari sudut pandang mata saya. Memang agak aneh saya bercerita begini. Dengan umur hampir 18 tahun Agustus ini saya dapat menilai seperti ini. Tapi inilah saya. Orang yang ingin mencari sesuatu yang dapat dijadikan ideologi untuk menutup kesendirian dari semua ini.
Sudut pandang orang selalu berbeda. Saat saya mengatakan itulah yang paling buruk dalam hidup ini, orang dapat tidak berbuat apa-apa saat melihatnya karena itu adalah kebiasaannya. Sudut pandang dalam hidup, saya pikir sesuatu yang dibentuk saat masa pembentukan mental, sikap, dan perilaku. Disaat itu kita akan seperti kendi yang kosong diberi berbagai macam air bahkan bumbu guna membentuk pribadi yang seperti orang tua kita inginkan. Kita tidak akan menyadari apa yang telah diberikan kepada kita karna lingkungan pembentuk kita mengatakan itulah dirimu, sebuah kebenaran yang mutlak tentang bagaimana dirimu.
Saya hanyalah anak yang tidak dibesarkan oleh orang tua biologis. Di Bali munggkin itu bukan hal yang aneh. Saat kita telah menikah dan tidak dikaruniai seorang anak, kita dapat meminta anak dari saudara kita yang telah terlebih dahulu menikah dan mempunyai anak. Sejak kecil saya telah diberitahu itu. Tentu saja saya dapat mengerti dengan itu dan saya menerima seluruhnya. Walaupun saat ini ayah saya telah meninggal, itu bukan suatu hal yang sulit maupun mudah karena beliau telah memberiku lebih apa yang dia mampu. Ibuku saat ini seperti meneruskan tugasnya. Disinilah pemikiran ini muncul.
Saya sudah sedari kecil tidak pernah cocok dengan ibu saya dari prilaku sampai gaya humor saya. Telah lama saya mencari penyebabnya dengan mengesamping beliau adalah bukan ibu biologis saya. Telah lama pula saya mencari apa persamaan dan perbedaan diantar kami. Tetapi terlalu banyak perbedaan yang dapat saya lihat, dari bagaimana menilai sesuatu sampai gaya humor. Mengesampingkan itu semua saya dapat benang merahnya.
Mungkin biologi telah mengajarkan bahwa sifat kita didapat karena pencampuran sifat orang tua kita sebagai parental. Sifat salah satu orang mungkin sangat ekstrim berbeda dengan yang lain, tetapi kadang kala hampir sama. Itulah takdir mungkin. Sifat yang diturunkan kepada kita menurut saya tidak hanya dalam bentuk fisik tetapi sifat bagaimana kita melihat sesuatu sebagai hal yang menarik sampai mengatakan hal itu adalah sampah. Tetapi menurut saya itu tidak ada yang salah. Tergantung bagaimana kita dibentuk selama ini
Kembali pada pikiran utama pada paragraf satu, saya ingin mengucapkan terima kasih telah membentuk saya menjadi orang yang dimata masyarakat adalah baik, yang oleh diri saya pribadi sangat mempesona ideologi yang saya ciptakan, dan menjadi sesuatu yang mampu meliht semua ini. Apapun beliau, saya tetap memilki kebusukan pada diri saya. Bagaikan kendi yang telah diisi dengan berbagi cairan, saya tetap terbuat dari tanah liat yang hampir sama pembentuknya, sama seperti kakak saya yang dimata saya penuh kenakalan dan juga kebaikannya. Ibu, terima kasih telah membentuk diriku, tetapi lihat juga apa yang ada dalam diriku layaknya orang tua idamanku.
_A.N_
Kakakku kukenal sebagai orang yang memiliki segudang keburukan. Mari kusebutkan beberapa; malas yang super duper malas, nakal walaupun orang seumuran dia agak aneh bila kita mendengarnya, dan membuang air mani sembarangan dan bertanggung jawab dengan menggugurkannya. Tentu orang tuanya lebih tau susahnya mendidiknya. Sebagai bukti, sampi saat dia menikahpun masih tetap tidak dapat saya liat perubahannya sebagai orang dewasa yang sering saya dengar ceritanya. Tetapi yang namanuya orang selalu memiliki kebaikan hati yang dapat menandingi semua itu. Itulah orang tua, like son like father. Semoga penerusnya tidak seperti dia (mudah-mudahan seperti pamannya yang baik hati dan suka menabung juga tidak ketinggalan suka menyiram tanaman saat hujan).
Itulah salah satu kakakku, saya memiliki dua orang kakak. Kakak tertuaku telah terlebih dahulu menikah. Semoga dia cepat mengandung karena adiknya yang baru saja menikah telah membawa gadis dengan kandungan lima bulan. Sesuatu yang dipandanganku sangat tidak mengenakan untuk dibicarakan. Tetapi apa mau dikata, saya berbeda "pembentuk" alias lingkungan dengan mereka. Saat sedang ingin berkumpul dengan mereka, namanya saja saudara, mereka telah menggandeng suami dan istri. Tetapi bukan tiu yang ingin saya utarakan.
Lingkungan yang berbeda, itulah yang dapat saya rasakan perbedaan diantara kami bertiga. Lingkungan yang membentuk kami. Mereka dibentuk dengan orang tua yang memang asal mereka. Tentu itu membuat orang tuanya mampu mengerti bagaimana keinginan anaknya, mengetahui pola pikir dari anak-anaknya, dan yang paling penting tahu menempatkan dirinya disisi anaknya bahkan dapat tenang saat melihat kebusukan anak mereka dari sudut pandang mata saya. Memang agak aneh saya bercerita begini. Dengan umur hampir 18 tahun Agustus ini saya dapat menilai seperti ini. Tapi inilah saya. Orang yang ingin mencari sesuatu yang dapat dijadikan ideologi untuk menutup kesendirian dari semua ini.
Sudut pandang orang selalu berbeda. Saat saya mengatakan itulah yang paling buruk dalam hidup ini, orang dapat tidak berbuat apa-apa saat melihatnya karena itu adalah kebiasaannya. Sudut pandang dalam hidup, saya pikir sesuatu yang dibentuk saat masa pembentukan mental, sikap, dan perilaku. Disaat itu kita akan seperti kendi yang kosong diberi berbagai macam air bahkan bumbu guna membentuk pribadi yang seperti orang tua kita inginkan. Kita tidak akan menyadari apa yang telah diberikan kepada kita karna lingkungan pembentuk kita mengatakan itulah dirimu, sebuah kebenaran yang mutlak tentang bagaimana dirimu.
Saya hanyalah anak yang tidak dibesarkan oleh orang tua biologis. Di Bali munggkin itu bukan hal yang aneh. Saat kita telah menikah dan tidak dikaruniai seorang anak, kita dapat meminta anak dari saudara kita yang telah terlebih dahulu menikah dan mempunyai anak. Sejak kecil saya telah diberitahu itu. Tentu saja saya dapat mengerti dengan itu dan saya menerima seluruhnya. Walaupun saat ini ayah saya telah meninggal, itu bukan suatu hal yang sulit maupun mudah karena beliau telah memberiku lebih apa yang dia mampu. Ibuku saat ini seperti meneruskan tugasnya. Disinilah pemikiran ini muncul.
Saya sudah sedari kecil tidak pernah cocok dengan ibu saya dari prilaku sampai gaya humor saya. Telah lama saya mencari penyebabnya dengan mengesamping beliau adalah bukan ibu biologis saya. Telah lama pula saya mencari apa persamaan dan perbedaan diantar kami. Tetapi terlalu banyak perbedaan yang dapat saya lihat, dari bagaimana menilai sesuatu sampai gaya humor. Mengesampingkan itu semua saya dapat benang merahnya.
Mungkin biologi telah mengajarkan bahwa sifat kita didapat karena pencampuran sifat orang tua kita sebagai parental. Sifat salah satu orang mungkin sangat ekstrim berbeda dengan yang lain, tetapi kadang kala hampir sama. Itulah takdir mungkin. Sifat yang diturunkan kepada kita menurut saya tidak hanya dalam bentuk fisik tetapi sifat bagaimana kita melihat sesuatu sebagai hal yang menarik sampai mengatakan hal itu adalah sampah. Tetapi menurut saya itu tidak ada yang salah. Tergantung bagaimana kita dibentuk selama ini
Kembali pada pikiran utama pada paragraf satu, saya ingin mengucapkan terima kasih telah membentuk saya menjadi orang yang dimata masyarakat adalah baik, yang oleh diri saya pribadi sangat mempesona ideologi yang saya ciptakan, dan menjadi sesuatu yang mampu meliht semua ini. Apapun beliau, saya tetap memilki kebusukan pada diri saya. Bagaikan kendi yang telah diisi dengan berbagi cairan, saya tetap terbuat dari tanah liat yang hampir sama pembentuknya, sama seperti kakak saya yang dimata saya penuh kenakalan dan juga kebaikannya. Ibu, terima kasih telah membentuk diriku, tetapi lihat juga apa yang ada dalam diriku layaknya orang tua idamanku.
_A.N_