Selasa, 15 Juli 2008

Idiologi 1

Terima kasih saya ucapkan kepada ibuku yang sekarang tinggal bersamaku. Cukup aneh bukan. Sebuah kata terima kasih konon katanya sangat berarti dalam hidup ini. Kata itu dapat mewakili segudang perasaan yang saya miliki untuk selama ini. Setidaknya untuk segala sesuatu yang saya alami sampai saat ini. Atau sampai pada masa pembentukan diriku.

Kakakku kukenal sebagai orang yang memiliki segudang keburukan. Mari kusebutkan beberapa; malas yang super duper malas, nakal walaupun orang seumuran dia agak aneh bila kita mendengarnya, dan membuang air mani sembarangan dan bertanggung jawab dengan menggugurkannya. Tentu orang tuanya lebih tau susahnya mendidiknya. Sebagai bukti, sampi saat dia menikahpun masih tetap tidak dapat saya liat perubahannya sebagai orang dewasa yang sering saya dengar ceritanya. Tetapi yang namanuya orang selalu memiliki kebaikan hati yang dapat menandingi semua itu. Itulah orang tua, like son like father. Semoga penerusnya tidak seperti dia (mudah-mudahan seperti pamannya yang baik hati dan suka menabung juga tidak ketinggalan suka menyiram tanaman saat hujan).

Itulah salah satu kakakku, saya memiliki dua orang kakak. Kakak tertuaku telah terlebih dahulu menikah. Semoga dia cepat mengandung karena adiknya yang baru saja menikah telah membawa gadis dengan kandungan lima bulan. Sesuatu yang dipandanganku sangat tidak mengenakan untuk dibicarakan. Tetapi apa mau dikata, saya berbeda "pembentuk" alias lingkungan dengan mereka. Saat sedang ingin berkumpul dengan mereka, namanya saja saudara, mereka telah menggandeng suami dan istri. Tetapi bukan tiu yang ingin saya utarakan.

Lingkungan yang berbeda, itulah yang dapat saya rasakan perbedaan diantara kami bertiga. Lingkungan yang membentuk kami. Mereka dibentuk dengan orang tua yang memang asal mereka. Tentu itu membuat orang tuanya mampu mengerti bagaimana keinginan anaknya, mengetahui pola pikir dari anak-anaknya, dan yang paling penting tahu menempatkan dirinya disisi anaknya bahkan dapat tenang saat melihat kebusukan anak mereka dari sudut pandang mata saya. Memang agak aneh saya bercerita begini. Dengan umur hampir 18 tahun Agustus ini saya dapat menilai seperti ini. Tapi inilah saya. Orang yang ingin mencari sesuatu yang dapat dijadikan ideologi untuk menutup kesendirian dari semua ini.

Sudut pandang orang selalu berbeda. Saat saya mengatakan itulah yang paling buruk dalam hidup ini, orang dapat tidak berbuat apa-apa saat melihatnya karena itu adalah kebiasaannya. Sudut pandang dalam hidup, saya pikir sesuatu yang dibentuk saat masa pembentukan mental, sikap, dan perilaku. Disaat itu kita akan seperti kendi yang kosong diberi berbagai macam air bahkan bumbu guna membentuk pribadi yang seperti orang tua kita inginkan. Kita tidak akan menyadari apa yang telah diberikan kepada kita karna lingkungan pembentuk kita mengatakan itulah dirimu, sebuah kebenaran yang mutlak tentang bagaimana dirimu.

Saya hanyalah anak yang tidak dibesarkan oleh orang tua biologis. Di Bali munggkin itu bukan hal yang aneh. Saat kita telah menikah dan tidak dikaruniai seorang anak, kita dapat meminta anak dari saudara kita yang telah terlebih dahulu menikah dan mempunyai anak. Sejak kecil saya telah diberitahu itu. Tentu saja saya dapat mengerti dengan itu dan saya menerima seluruhnya. Walaupun saat ini ayah saya telah meninggal, itu bukan suatu hal yang sulit maupun mudah karena beliau telah memberiku lebih apa yang dia mampu. Ibuku saat ini seperti meneruskan tugasnya. Disinilah pemikiran ini muncul.

Saya sudah sedari kecil tidak pernah cocok dengan ibu saya dari prilaku sampai gaya humor saya. Telah lama saya mencari penyebabnya dengan mengesamping beliau adalah bukan ibu biologis saya. Telah lama pula saya mencari apa persamaan dan perbedaan diantar kami. Tetapi terlalu banyak perbedaan yang dapat saya lihat, dari bagaimana menilai sesuatu sampai gaya humor. Mengesampingkan itu semua saya dapat benang merahnya.

Mungkin biologi telah mengajarkan bahwa sifat kita didapat karena pencampuran sifat orang tua kita sebagai parental. Sifat salah satu orang mungkin sangat ekstrim berbeda dengan yang lain, tetapi kadang kala hampir sama. Itulah takdir mungkin. Sifat yang diturunkan kepada kita menurut saya tidak hanya dalam bentuk fisik tetapi sifat bagaimana kita melihat sesuatu sebagai hal yang menarik sampai mengatakan hal itu adalah sampah. Tetapi menurut saya itu tidak ada yang salah. Tergantung bagaimana kita dibentuk selama ini

Kembali pada pikiran utama pada paragraf satu, saya ingin mengucapkan terima kasih telah membentuk saya menjadi orang yang dimata masyarakat adalah baik, yang oleh diri saya pribadi sangat mempesona ideologi yang saya ciptakan, dan menjadi sesuatu yang mampu meliht semua ini. Apapun beliau, saya tetap memilki kebusukan pada diri saya. Bagaikan kendi yang telah diisi dengan berbagi cairan, saya tetap terbuat dari tanah liat yang hampir sama pembentuknya, sama seperti kakak saya yang dimata saya penuh kenakalan dan juga kebaikannya. Ibu, terima kasih telah membentuk diriku, tetapi lihat juga apa yang ada dalam diriku layaknya orang tua idamanku.

_A.N_

Sabtu, 05 Juli 2008

Nusa Dua

Pagi itu aku melakukan kegiatan olahraga seperti hari sebagaimana ku isi liburan singkat lainnya. Bersepeda adalah pilihanku. Walaupun sendiri, disanalah ku menemukan bagian dalam hidupku. Bagian yang mampu ku tuangkan dalam asa yang hampir pupus sebelum matahari terbenam kemarin. Kemarin hidupku sepi, saat sejuta kelopak mata belum membuka insan ini kembali mencari kesendiriannya.

Kuawali kayuhan ku dengan kayuhan penuh. Berharap gerakan awal itu akan menghemat usaha ku sampai tujuan. Kayuhan penuh arti yang dalam definisiku sebagai tonggak awal kesendirianku. Roda-roda ku mulai memutar. Tentu itu berarti usaha yang kulakukan lebih besar dari kelembaman yang dimiliki roda-roda itu. Sepeda pun mulai bergerak perlahan-lahan menuju tempat tujuan ku subuh ini, Nusa Dua.

Perjalanan pada saat begini akan membuat tubuhku menggigil. Langkah demi langkah menghembuskan angin malam yang tersisa. Tak ada angin. Tak ada kehangatan di sampingku. Tentu selain panas tubuh yang ku hasilkan, tujuan utama berolahraga. Terpaan sisa angin malam ini terasa pekat akan gas oksigen. Aku tidak tahu apakah yang ku hirup adalah udara yang bersih atau udara hampa yang merasa ingin dihirup oleh insan ini. Tetapi tetap saja udara itu tidak mampu menghangatkan dada yang menggigil ini.

***

Setelah keringat bercucuran akhirnya sampai pula aku pada tempat tujuanku. Disebuah pantai yang indah. Pantai yang tak mampu ku ungkapkan dengan kata-kata. Walau masih kurasa dinginnya tetapi kehangatannya begitu dekat ku rasakan. Tujuan yang indah untuk berwisata.

Sebenarnya tempat ini adalah laguna. Ditempat sekarang aku berdiri, pembatas lautan dan daratan, aku dapat melihat dua pulau. Salah satu pulau itu bernama Pulau Nusa Dharma, begitulah yang tertulis pada peta disampingku.

Setelah beristirahat sejenak ku putuskan untuk mulai menyusuri pantai bersama sepedaku. Langkah ku membawa ku pada pulau itu. Karena air belum pasang, aku dengan mudah mencapai bibir pulau. Sepasang ini disambut anak tangga yang tak terlalu banyak. Pelan tapi pasti, ditemani sepedaku, aku mulai sampai di tengah pulau itu. Walaupun agak janggal menyebut tempat ini sebagai sebuah pulau karena tempat ini tak begitu jelas.

Pandangan pertama ku tertuju pada sebuah pura disana. Segera aku mencari bunga Kamboja bali yang beberapa pohonnya mencari kehidupan di pulau ini. Keindahan bunga yang ku petik begitu menggambarkan keindahan dari pulau ini -mungil, wangi, dan penuh pesona.

***

Di tempat sekarang aku berdiri inilah kesendirianku pernah terobati. Di bibir pulau yang membatasi cakrawala inilah tempat dimana aku pernah melihat sesosok yang melebehi segumpalan daging bernyawa. Sebuah tempat yang mampu membuka kenangan-kenangan saat dia memendam kesendirianku dengan senyum tawanya. Keindahan tubuhnya mampu membutakan mata ini yang ingin selalu ditemani.

Dua bulan lalu

Apa yang kau lakukan disini seorang diri? Matahari belum sempurna menampakan diri. Angin malam yang belum mau beranjak dari kulit ini. Apakah gerangan yang membuat engkau termenung sendiri

Apa yang dapat ku katakan padamu. Mungkin Sang Surya itu belum mau mengusir embun malam karna kesalahan yang ku lakukan. Mungkin Matahari belum mampu melihat insan yang dipenuhi dosa ini.

Maukah engkau mengenalkan dirimu? Aku mempunyai firasat pembicaraan ini akan berlangsung lama dan berkesan. Bolehkah aku mengetahui namamu?

Apa yang kau bicarakan? Tak ada gunanya engkau mengetahui namaku. Semua yang ada dalam diriku hanya sesuatu yang tak mungkin akan berguna untukmu. Tempat ini begitu cocok untukku. Sendiri menanti datangnya sinar matahari yang ku harap dapat menghapus semua mimpi-mimpiku.

Mimpi terkadang adalah pegangan seseorang dalam menjalani hidupnya. Mimpi adalah tujuan saat kita kehilangan arah. Bulan banyak bercerita pada kita tentang mimpi itu. Mimpi itu milik bintang-bintang yang ku pandangi malam ini. Keesokan harinya, Mimpi-mimpi itu mulai memamnggil kita tuk dapat mewujudkannya. Salah satu mimpiku adalah mampu memberikan senyum padamu, bukan dirimu yang sekarang, tetapi dirimu yang penuh keputusasaan.

Apakah mimpi itu penting? Seberapa pentingnya mimpi dalam hidup ini?

Bagiku mimpilah yang membuatku merasa ada hari esok. Esok kan buat mimpi itu menjadi kenyataan.

Suara ombak yang datang silih berganti menyuguhkan lagu alam nan merdu. Membuat sebuah adegan dalam hidupku lebih bercorak.

Bila memang benar itu definisi mimpi bagimu, bawalah aku ke dalam mimpimu itu. Ingin kulapakan hidupku yang kemarin. Ingin ku letakkan kehidupanku yang lalu dala jurang yang ada di bibir pulau ini.

Akhirnya kami pulang bersama. Memungut keping-keping sinar Matahari yang mulai membuat kulit ini hangat. Keping kehidupan yang akan aku susun untuk dirinya agar dia mampu memiliki mimpi yang akan buat dirinya tersenyum.

_A.N_

Senin, 28 April 2008

Kesan dan Pesan Pertama

Ini merupakan kali pertama bagi saya untuk memulai pembelajaran dari dunia maya. Sebuah halaman blog mungkin dapat membantu saya dalam memaknai dunia maya sebagaimana sebenarnya. Semoga apa yang saya lakukan ini dapaty mendatangkan hasil yang baik bagi saya dan orang-orang yang berada di sekitar kita.

Saya mengambil judul blog seperti ini karena selama ini saya merasa ada sesuatau yang menjadi pegangan saya dalam hidup yang berawal dari malam sebelum saya memulai hidup saya hari ini. Saya berpikir dengan blog ini saya dapat membagi apa yang ada dalam benak saya agar dapat teman-teman yang menaruh perhatian pada tulisan saya ini intuk memberi tanggapan yang berarti. sebuah tanggapan membangun yang dapat kita gunakan tuk membuat hidup esok lebih baik.