Pagi itu aku melakukan kegiatan olahraga seperti hari sebagaimana ku isi liburan singkat lainnya. Bersepeda adalah pilihanku. Walaupun sendiri, disanalah ku menemukan bagian dalam hidupku. Bagian yang mampu ku tuangkan dalam asa yang hampir pupus sebelum matahari terbenam kemarin. Kemarin hidupku sepi, saat sejuta kelopak mata belum membuka insan ini kembali mencari kesendiriannya.
Kuawali kayuhan ku dengan kayuhan penuh. Berharap gerakan awal itu akan menghemat usaha ku sampai tujuan. Kayuhan penuh arti yang dalam definisiku sebagai tonggak awal kesendirianku. Roda-roda ku mulai memutar. Tentu itu berarti usaha yang kulakukan lebih besar dari kelembaman yang dimiliki roda-roda itu. Sepeda pun mulai bergerak perlahan-lahan menuju tempat tujuan ku subuh ini, Nusa Dua.
Perjalanan pada saat begini akan membuat tubuhku menggigil. Langkah demi langkah menghembuskan angin malam yang tersisa. Tak ada angin. Tak ada kehangatan di sampingku. Tentu selain panas tubuh yang ku hasilkan, tujuan utama berolahraga. Terpaan sisa angin malam ini terasa pekat akan gas oksigen. Aku tidak tahu apakah yang ku hirup adalah udara yang bersih atau udara hampa yang merasa ingin dihirup oleh insan ini. Tetapi tetap saja udara itu tidak mampu menghangatkan dada yang menggigil ini.
***
Setelah keringat bercucuran akhirnya sampai pula aku pada tempat tujuanku. Disebuah pantai yang indah. Pantai yang tak mampu ku ungkapkan dengan kata-kata. Walau masih kurasa dinginnya tetapi kehangatannya begitu dekat ku rasakan. Tujuan yang indah untuk berwisata.
Sebenarnya tempat ini adalah laguna. Ditempat sekarang aku berdiri, pembatas lautan dan daratan, aku dapat melihat dua pulau. Salah satu pulau itu bernama Pulau Nusa Dharma, begitulah yang tertulis pada peta disampingku.
Setelah beristirahat sejenak ku putuskan untuk mulai menyusuri pantai bersama sepedaku. Langkah ku membawa ku pada pulau itu. Karena air belum pasang, aku dengan mudah mencapai bibir pulau. Sepasang ini disambut anak tangga yang tak terlalu banyak. Pelan tapi pasti, ditemani sepedaku, aku mulai sampai di tengah pulau itu. Walaupun agak janggal menyebut tempat ini sebagai sebuah pulau karena tempat ini tak begitu jelas.
Pandangan pertama ku tertuju pada sebuah pura disana. Segera aku mencari bunga Kamboja bali yang beberapa pohonnya mencari kehidupan di pulau ini. Keindahan bunga yang ku petik begitu menggambarkan keindahan dari pulau ini -mungil, wangi, dan penuh pesona.
***
Di tempat sekarang aku berdiri inilah kesendirianku pernah terobati. Di bibir pulau yang membatasi cakrawala inilah tempat dimana aku pernah melihat sesosok yang melebehi segumpalan daging bernyawa. Sebuah tempat yang mampu membuka kenangan-kenangan saat dia memendam kesendirianku dengan senyum tawanya. Keindahan tubuhnya mampu membutakan mata ini yang ingin selalu ditemani.
Dua bulan lalu
Apa yang kau lakukan disini seorang diri? Matahari belum sempurna menampakan diri. Angin malam yang belum mau beranjak dari kulit ini. Apakah gerangan yang membuat engkau termenung sendiri
Apa yang dapat ku katakan padamu. Mungkin Sang Surya itu belum mau mengusir embun malam karna kesalahan yang ku lakukan. Mungkin Matahari belum mampu melihat insan yang dipenuhi dosa ini.
Maukah engkau mengenalkan dirimu? Aku mempunyai firasat pembicaraan ini akan berlangsung lama dan berkesan. Bolehkah aku mengetahui namamu?
Apa yang kau bicarakan? Tak ada gunanya engkau mengetahui namaku. Semua yang ada dalam diriku hanya sesuatu yang tak mungkin akan berguna untukmu. Tempat ini begitu cocok untukku. Sendiri menanti datangnya sinar matahari yang ku harap dapat menghapus semua mimpi-mimpiku.
Mimpi terkadang adalah pegangan seseorang dalam menjalani hidupnya. Mimpi adalah tujuan saat kita kehilangan arah. Bulan banyak bercerita pada kita tentang mimpi itu. Mimpi itu milik bintang-bintang yang ku pandangi malam ini. Keesokan harinya, Mimpi-mimpi itu mulai memamnggil kita tuk dapat mewujudkannya. Salah satu mimpiku adalah mampu memberikan senyum padamu, bukan dirimu yang sekarang, tetapi dirimu yang penuh keputusasaan.
Apakah mimpi itu penting? Seberapa pentingnya mimpi dalam hidup ini?
Bagiku mimpilah yang membuatku merasa ada hari esok. Esok kan buat mimpi itu menjadi kenyataan.
Suara ombak yang datang silih berganti menyuguhkan lagu alam nan merdu. Membuat sebuah adegan dalam hidupku lebih bercorak.
Bila memang benar itu definisi mimpi bagimu, bawalah aku ke dalam mimpimu itu. Ingin kulapakan hidupku yang kemarin. Ingin ku letakkan kehidupanku yang lalu dala jurang yang ada di bibir pulau ini.
Akhirnya kami pulang bersama. Memungut keping-keping sinar Matahari yang mulai membuat kulit ini hangat. Keping kehidupan yang akan aku susun untuk dirinya agar dia mampu memiliki mimpi yang akan buat dirinya tersenyum.
_A.N_
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar